Mengadukan Kejahatan
Kejadian 37:2 (TB) Inilah riwayat keturunan Yakub. Yusuf, tatkala berumur tujuh belas tahun — jadi masih muda — biasa menggembalakan kambing domba, bersama-sama dengan saudara-saudaranya, anak-anak Bilha dan Zilpa, kedua isteri ayahnya. Dan Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya.
Shalom, Saudaraku.... Sebuah lirik berkata, "Ku mau cinta Yesus selamanya, ku mau cinta Yesus selamanya, meskipun badai silih berganti dalam hidupku, ku tetap cinta Yesus selamanya."
Saudaraku, waktu itu Yusuf masih muda, masih umur 17 tahun. Dia anak ke-11 dari 12 anak laki-laki. Kegiatannya sehari-hari adalah menggembalakan kambing domba bersama saudara-saudaranya. Saat bekerja dengan mereka, tentu Yusuf melihat karakter mereka, lihat bagaimana mereka bertindak, dengar apa yg mereka bicarakan dan belajar mengenali isi pikiran mereka. Kemudian Yusuf mengetahui bahwa saudara-saudaranya itu jahat. Kita diberi hati nurani oleh Tuhan, kita juga diberi pikiran dan perasaan sehingga kita bisa tau mana yg baik dan yg jahat. Kita perlu memiliki kemampuan tersebut dan bisa mengambil sikap yg benar. Ada orang-orang yg awalnya tahu bahwa sesuatu jahat tapi dia mulai toleransi, mulai biarkan dikit-dikit, eh akhirnya kebablasan. Kemudian dia jadi ga bisa membedakan lagi mana yg jahat dan mana yg baik. Dia anggap yg jahat jadi baik. Contoh mudah ialah merokok. Dia tau awalnya bahwa merokok itu ga baik, itu jahat, itu merusak. Karena penasaran, dia mulai coba-coba dulu, mulai toleransi, mulai merasa enak, nikmat, lalu kecanduan. Setelah kecanduan pola pikirnya berubah. Awalnya dia anggap merokok itu jahat dan buruk tapi sekarang bagi dia merokok itu menenangkan, baik untuk jiwa. Mulai berubah, mulai kacau. Itulah jadinya kalau kita tau yg jahat tapi kita abaikan itu masuk ke dalam diri kita.
Saudaraku, Yusuf mengajukan kejahatan saudara-saudaranya kepada sang ayah. Wawww, apakah dengan demikian Yusuf ini tukang ngadu? Apakah tukang ngadu itu pengecut? Saya jadi ingat, waktu saya kecil, ketika saya dijailin oleh teman saya, maka saya akan ngadu ke mamah, lalu ketika saya hendak mengadukan hal itu, saya dihina, diejek, "Hahahaha cemen, tukang ngadu, dasar lemah...!!" Wah, saya dihina dan diejek ketika saya mau ngadu. Jadinya saya tidak ngadu, saya simpan kepedihan itu di hati. Benarkah mengadu itu cemen, payah dan lemah? Setelah dewasa, saya sadar bahwa mengadukan kejahatan itu bagus, itu ksatria, itu pemberani. Kalau ada yg jahat dan kita ga bisa tangani, ya kita harus ngadu, jangan pendem itu sendirian. Yusuf itu dibawah 10 saudaranya yg lain. Dia ga bisa atasi kejahatan mereka. Dia harus ngadu ke ayahnya. Dia ngadu karena dia peduli sama 10 saudaranya. Kalau kita peduli sama keadaan, kita harus berani mengadukan kejahatan. Indonesia itu ga kekurangan orang jujur sebenernya tapi sangat kekurangan orang yg jujur dan berani. Kebanyakan takut mengadukan yg jahat. Entah takut diancam, takut terseret, takut dihajar dan lain sebagainya. Itu yg bikin kejahatan makin merajalela dan berkuasa karena orang-orang yg mau ngadu pada ga berani, semuanya takut membongkar kejahatan.
Saudaraku, saya baru dengar kesaksian seseorang yg bekerja di suatu kementerian. Beliau tau ada penyalahgunaan anggaran di kementeriannya. Beliau tau orang-orangnya, beliau tau ada kejahatan di dalamnya. Tapi apa sikapnya? Beliau ga berani bongkar. Beliau takut terseret, takut dihajar, takut diancam. Memang, orang jujur pemberani harus ambil resiko dan siap tanggung resiko. Kenapa banyak korupsi terjadi? Karena banyak orang tau tapi tutup mulut. Mereka ga berani bongkar, ga berani ngadu. Kita ga perlu atasi persoalan itu sendiri sebab kita bisa ngadu ke pihak yg berwenang dan lebih berkuasa. Kalau kita atasi sendiri, pasti sangat sulit dan rumit tapi kalau kita ngadu, maka kita dapat melibatkan pihak yg sanggup atasi persoalan itu. Kita harus minta Tuhan untuk beri hati yg siap diancam, dianiaya dan disingkirkan. Sebagai orang Kristen, jangan pernah berdoa supaya masalah segera berlalu tapi mintalah supaya hati kita kuat di dalam Tuhan saat menghadapi berbagai masalah. Mari mengadu, mari bongkar kejahatan, mari taklukkan pelanggaran itu..!!
Puji Tuhan, hari ini kita sudah belajar dan mau terapkan 3 hal, yaitu
1. Saya tidak mau biarkan kejahatan kecil masuk dan menjalar dalam diri saya.
2. Saya tidak mau diam dan membiarkan kejahatan terjadi begitu saja. Saya mau mengadukan kejahatan itu.
3. Saya mau bongkar kejahatan, berani buka mulut dan melibatkan pihak yg lebih berkuasa untuk atasi kejahatan
Tuhan Yesus menopang kita. Amin 🙏🏻✌️🤝
Kutipan
Berani membongkar kejahatan dengan jujur dan mengadukannya adalah sikap pendekar bukan pengecut
15-10-2023
RP
Komentar
Posting Komentar