BENARKAH HIKMAT TERLALU TINGGI?
(Amz 24:7) Hikmat terlalu tinggi bagi orang bodoh; ia tidak membuka mulutnya di pintu gerbang.
Shalom, Saudaraku… Tuhan Yesus mengasihi kita untuk seterusnya dan selama-lamanya.
Saudaraku, orang bodoh menganggap bahwa hikmat itu terlalu tinggi. Kenapa? Karena mereka malas belajar. Sebenarnya hikmat itu bisa diperoleh dan kita bisa mempelajarinya hanya saja orang bodoh punya sikap malas yang membuat dirinya sulit mendapatkan hikmat. Orang malas akan sulit memperoleh segala sesuatu. Orang malas ga mau kerja tapi mau makan. Firman TUHAN mengajar bahwa orang yang ga bekerja ga boleh makan. Orang malas cuma bisa menuntut orang lain dan keadaan tapi diri sendiri tidak pernah dituntut. Dia cuma bisa menyalahkan orang lain tapi ga pernah menyalahkan diri sendiri. Itulah sifat dari orang malas. Itu sebabnya dia menganggap bahwa hikmat terlalu tinggi. Dia juga menyalahkan keadaan. Dia menyalahkan hikmat yang terlalu tinggi bukan menyalahkan diri yang terlalu malas. Kita harus berkaca, bercermin dan sadar diri. Jangan jadi orang yang hobi menyalahkan keadaan. Salahkanlah diri sendiri, sesalilah kebodohan diri sendiri dan jangan lagi jadi orang malas.
Saudaraku, pada ayat di atas, kita menemukan ungkapan kata “pintu gerbang.” Pintu gerbang punya makna tempat berkumpulnya para pemimpin, tua-tua dan hakim untuk membahas urusan penting, membuat urusan hukum dan menyelesaikan perselisihan. Nah, yang ngumpul di sana hanya orang-orang bijak dan berhikmat. Orang bodoh bisa apa? Orang malas ngapain? Mereka tidak membuka mulutnya karena mereka ga bisa apa-apa. Mereka ga bisa berkontribusi, mereka ga bisa kasih dampak positif di masyarakat. Mereka cuma jadi beban masyarakat. Ini sangat memprihatinkan. Kita harusnya memanfaatkan momen untuk bisa jadi dampak positif di mana pun kita berada. Jangan jadi orang yang pasif dan cuma bisa diem. Sebagai manusia yang punya akal budi, harusnya kita bisa bersuara, menyatakan hikmat, kasih masukan, nasihat dan solusi untuk masyarakat. Kita harus berusaha dan mengerjakan hal yang baik di tengah masyarakat sehingga kita bisa jadi garam dan terang dunia yang TUHAN panggil untuk jadi berkat.
Saudaraku, ayat ini juga memberi pesan yang positif terkait berbicara atau diam. Kalau kita bukan orang yang bisa menyampaikan kata-kata hikmat, maka putuskanlah untuk diam. Kalau kita ngomong tanpa hikmat, maka orang pun akan merendahkan kita, orang akan menilai kita ga bernilai. Saat kita diberi kesempatan untuk berbicara, maka bersiaplah untuk menyampaikan hal-hal penting dan berbobot. Jangan jadi orang yang ngalor-ngidul, yang ga jelas dan ga punya arah dalam bicara. Jangan juga jadi orang yang pandai merangkai kata tapi tanpa tindakan sama sekali. Orang seperti itu pasti dianggap omong kosong dan cuma bisa obral kata-kata. Jangan sampai kita jadi beban bagi orang karena perkataan yang bodoh. Belajarlah untuk menahan diri, jangan bicara kalau ga ngerti apa-apa. Lebih baik diam untuk mendengar dari pada bicara padahal ga tau apa-apa. Mari banyak belajar hikmat supaya kita bisa berbicara saat diberi kesempatan bicara. Jangan pernah jadi beban bagi orang lain karena perkataan yang sia-sia.
Puji TUHAN, hari ini kita sudah belajar dan mau menerapkan 3 hal, yaitu
1. Saya tidak mau jadi orang bodoh dan malas yang hanya bisa menyalahkan keadaan dan orang lain.
2. Saya mau jadi orang yang berkontribusi dan memberi dampak positif untuk masyarakat.
3. Saya mau jadi orang yang menahan diri untuk bicara, belajar untuk diam saat tidak tahu apa-apa.
Tuhan Yesus menopang kita. Amin.. πΈππ
Kutipan
Orang malas tidak menyalahkan diri sendiri tapi hobi menyalahkan orang lain dan menyalahkan keadaan.
29-11-2024
Rialdi Pasaribu
Komentar
Posting Komentar