HATI YANG PENUH TIPU DAYA
(Amsal 26:24) “Si pembenci berpura-pura dengan bibirnya, tetapi dalam hati dikandungnya tipu daya.”
Shalom, Saudaraku... Apa kabarnya hari ini? Kiranya kasih dan damai Tuhan selalu menyertai kita dalam setiap langkah hidup kita.
Saudaraku, ayat ini mengingatkan kita tentang bahaya kepura-puraan dalam hubungan dengan orang lain. Ada orang yang tampak ramah dan berkata-kata manis, tetapi sebenarnya menyimpan kebencian dan tipu daya dalam hatinya. Mereka berpura-pura baik, tetapi sesungguhnya memiliki niat yang tidak tulus. Ketika kita benci kepada orang lain, kita harus segera adakan pemulihan hubungan. Kita harus minta maaf, saling mengampuni dan pastikan tidak ada sakit hati di antara kedua belah pihak. Kalau kita ga bereskan dengan pemulihan hubungan, maka pertengkaran itu akan menyisakan kebencian dan kepura-puraan. Saat bertemu, bisa jadi suasana nampaknya normal-normal saja bahkan baik padahal di balik itu ada kepura-puraan, ada kebohongan dan kepalsuan. Di dalam hati masih tersimpan kebencian tetapi di mulut ada sandiwara dengan mengatakan hal baik dan manis. Inilah tipikal dari seorang pembenci, dia suka berpura-pura. Dia ga beresin hatinya sehingga dia menipu dengan bibirnya. Kita tidak boleh jadi tipikal orang semacam ini..!
Mari kita renungkan: Apakah kita pernah mengalami situasi di mana seseorang terlihat baik di depan, tetapi ternyata menyimpan maksud tersembunyi? Atau mungkin kita sendiri pernah tergoda untuk bersikap seperti itu—berkata baik tetapi di hati menyimpan kemarahan atau kebencian. Tuhan tidak ingin kita hidup dalam kepalsuan. Dia ingin hati dan perkataan kita selaras dalam kebenaran dan kasih. Kita harus peka dengan keadaan. Kalau kita tahu bahwa ada orang yang pernah berselisih dengan kita lalu karena waktu sudah berlalu, maka keadaan nampak baik-baik saja, maukah kita menanyakan kembali apakah semuanya baik-baik saja? Kita juga bisa meminta maaf atas kesalahan kita di masa lalu. Ya, meskipun sudah berlalu, kita harus sadar bahwa dosa itu tidak bisa dibereskan oleh waktu tapi harus dibereskan melalui kasih dan pengampunan. Jangan tunggu waktu berlalu. Banyak orang berkata, waktu yang menyembuhkan tapi orang Kristen meyakini bahwa kasih dan pengampunan yang menyembuhkan. Kita mau pilih yang mana, waktu atau pengampunan? Jangan sungkan ketika hati nurani kita memberi peringatan untuk meminta maaf atas kesalahan kita terhadap orang lain di masa lampau. Kalau belum beres dan belum diselesaikan, maka inilah waktunya untuk memulihkan hubungan meskipun waktu sudah berlalu begitu lama.
Saudaraku, saya juga belajar dari pengalaman pribadi. Ada saat di mana saya tergoda untuk menyembunyikan perasaan tidak suka terhadap seseorang dengan berpura-pura baik. Tetapi saya sadar, Tuhan melihat hati saya lebih dari sekadar perkataan saya. Dia mengajarkan saya untuk tidak menyimpan kebencian, tetapi belajar mengampuni dan berkata dengan ketulusan. Kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang lain tetapi mau mengampuni sebagaimana Kristus telah melemparkan dosa dan kesalahan kita ke tubir laut. Kita harus belajar untuk memaafkan dan mengampuni supaya sikap kita menjadi utuh dan asli. Jangan sampai ada kepura-puraan, jangan ada kebohongan. Mulut kita harus selaras dengan isi hati kita. Jangan simpan benci begitu lama dan berharap waktu yang menyembuhkan. Sekarang juga kita bisa sembuh asal kita mau gunakan cara TUHAN, yaitu menyisihkan benci dengan kasih dan pengampunan.
Puji Tuhan, hari ini kita sudah belajar dan mau menerapkan 3 hal, yaitu:
1. Saya mau berkata dengan tulus dan tidak berpura-pura.
2. Saya mau membuang kebencian dari hati dan menggantinya dengan kasih Kristus.
3. Saya mau meminta hikmat Tuhan agar hati dan perkataan saya selaras dalam kebenaran.
Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk hidup dalam ketulusan dan menjauhkan diri dari kepalsuan. Amin. 🙏😊
Kutipan:
"Kepura-puraan mungkin bisa menipu manusia, tetapi tidak bisa menyembunyikan hati dari Tuhan."
04-02-2025
Rialdi Pasaribu
Komentar
Posting Komentar