JANGAN MENGHAKIMI, TAPI HIDUPLAH DALAM PERTOBATAN
π Roma 2:1 — “Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak dapat berdalih; sebab dalam menghakimi orang lain, engkau menghukum dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.”
Shalom, sahabat firman πΏ Kiranya kita semakin giat merenungkan dan melakukan firman Tuhan ya..
Saudaraku, Paulus menegaskan bahwa Allah adalah Hakim yang adil. Kita sering cepat menghakimi orang lain, padahal kita sendiri juga jatuh dalam dosa. Dengan menghakimi, kita sesungguhnya menyingkapkan kelemahan kita sendiri. Banyak orang melihat balok di mata sesamanya tetapi tidak sadar bahwa ada selumbar di matanya sendiri. Saat kita nonton bola pun, seringkali kita menghakimi pemain ketika tendangannya melenceng. Kita mengatakan pemain payah, pemain gagal dan pemain jelek. Coba kita yg tendang, pasti kita lebih buruk dari orang yg kita hakimi. Manusia lebih suka menilai dari pada berpikir. Manusia lebih suka menghakimi dari pada mengerjakan tugasnya. Kita harus sadar kalau kita masih suka menjadi hakim atas sesama. Kita harus bertobat dan rendah hati.
Saudaraku, Roma 2 mengingatkan kita bahwa keselamatan bukanlah soal status atau identitas keagamaan semata, melainkan soal hati yang bertobat. Allah melihat isi hati, bukan penampilan luar. Ia menghendaki kita hidup dalam pertobatan setiap hari, bukan hanya menunjuk kesalahan orang lain. Kita harus belajar introspeksi diri. Kita harus minta Tuhan selidiki hati kita, lihat hati kita. Jangan jadi juara dalam hal menghakimi tetapi abai mengakui dosa. Ada seseorang, katakan si A mengejek sesamanya si B dengan mengatakan, "Dia orangnya pemarah, ga sabaran dan provokator." Eh, ternyata si A pun kelakuannya begitu. Dia itu pemarah, ga sabaran dan provokator. Biasanya tukang gosip adalah orang yg suka menghakimi. Ini sangat bahaya. Jangan bergaul dengan tukang gosip.
Saudaraku, kabar baiknya, kebaikan Allah justru menuntun kita kepada pertobatan (Roma 2:4). Jadi, setiap kali kita merasakan kesabaran dan kasih setia Tuhan, itu bukan alasan untuk tetap hidup dalam dosa, tetapi kesempatan untuk berbalik kepada-Nya. π Kita yg dulunya suka menghakimi, kini beroleh anugerah dan pengampunan Tuhan agar kita mengenakan manusia baru sekaligus memiliki hati yg baru. Hati yang baru ini tulus dan penuh kasih sehingga ia tidak suka menghakimi tetapi sukanya mengajar dan mendidik orang dalam kebenaran. Pertobatan dari Allah membuat kita berpikir baik tentang sesama. Perhatikan, Yesus pun tidak menghakimi perempuan yg kedapatan berzinah. Ia justru memberi pengampunan dan perintah agar perempuan itu tidak berbuat dosa lagi. Ini adalah anugerah yg sangat besar. Kelak ketika kita menemui orang yg bersalah kepada kita, maka mari kita mengampuni dan tuntun dia dalam pertobatan. Ketika kita diampuni, maka kita pun harus mengampuni.
✝️ Tiga Komitmen Hari Ini:
1⃣ Saya mau berhenti mudah menghakimi orang lain.
2⃣ Saya mau melihat diri sendiri dan bertobat setiap hari.
3⃣ Saya mau bersyukur atas kesabaran Allah yang menuntun saya pada pertobatan.
π Kutipan Hari Ini:
“Kesabaran Allah bukan untuk disalahgunakan, tetapi untuk membawa kita kepada pertobatan.”
π️ 03-10-2025
✍️ Rialdi Pasaribu
Komentar
Posting Komentar