JANGAN LUPA BERSUKACITA ATAS KESETIAAN TUHAN 🙏🎉

📖 Ezra 6:16 (TB) — "Maka orang Israel, para imam, orang-orang Lewi dan orang-orang lain yang pulang dari pembuangan, merayakan pentahbisan rumah Allah ini dengan sukaria."


Shalom, Saudara terkasih 🌿 Firman hari ini mengajarkan bahwa setelah melewati proses panjang bersama Tuhan, kita perlu berhenti sejenak untuk bersyukur dan merayakan kesetiaan-Nya. 


Saudaraku, setelah bertahun-tahun menghadapi pembuangan, ketakutan, penolakan, penghentian pembangunan, ancaman, dan berbagai kesulitan, akhirnya Bait Allah selesai. Respons mereka sangat indah: mereka merayakan pentahbisan rumah Allah "dengan sukaria." Mereka tidak menganggap penyelesaian itu sebagai hasil kekuatan mereka sendiri. Sukacita mereka adalah ungkapan syukur karena Tuhan telah membawa mereka melewati seluruh proses. Ada saatnya mereka menangis, ada saatnya mereka takut, ada saatnya mereka hampir berhenti, tetapi Tuhan tetap membawa mereka sampai kepada garis akhir. Sukacita yang sejati lahir ketika kita menyadari bahwa di balik setiap keberhasilan ada tangan Tuhan yang menopang kita. Sukacita kita harus bersumber dari Tuhan, bukan dari dunia.


Saudaraku, sering kali kita lebih mudah mengingat kesulitan daripada kesetiaan Tuhan. Kita mengingat doa yang belum dijawab, masalah yang belum selesai, dan target yang belum tercapai. Akibatnya, kita lupa melihat begitu banyak hal yang sudah Tuhan kerjakan. Padahal perjalanan bersama Tuhan seharusnya memiliki momen-momen untuk berhenti dan berkata, "Tuhan, ternyata Engkau sudah membawa saya sejauh ini." Bersyukur bukan berarti semua masalah sudah selesai. Bersyukur berarti kita menyadari bahwa Tuhan tetap baik bahkan ketika masih ada hal yang harus kita perjuangkan. Karena itu, jangan menunggu hidup sempurna untuk bersukacita. Belajarlah menemukan alasan untuk bersyukur dalam setiap tahap perjalanan. Bersyukur adalah gaya hidup orang Kristen yg sangat mulia dan indah.


Saudaraku, perhatikan bahwa yang bersukacita bukan hanya para imam atau pemimpin, tetapi seluruh umat yang pulang dari pembuangan. Sukacita atas pekerjaan Tuhan menjadi sukacita bersama. Ini mengajarkan bahwa karya Tuhan tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggikan satu orang, tetapi menjadi kesempatan bagi seluruh umat untuk memuliakan Tuhan. Ketika seorang saudara diberkati, mari kita ikut bersukacita. Ketika sebuah pelayanan berkembang, mari kita bersyukur bersama. Ketika keluarga dipulihkan, mari kita melihatnya sebagai kesetiaan Tuhan. Hati yang dewasa secara rohani tidak iri terhadap keberhasilan orang lain, tetapi mampu berkata, "Tuhan, terima kasih karena Engkau bekerja." Sebab pada akhirnya, kemuliaan bukan milik manusia, melainkan milik Tuhan. Mari kita bersyukur, bersukacita dan bergembira di dalam Tuhan senantiasa.


✝️ Tiga Komitmen Hari Ini:

1️⃣ Saya mau belajar bersyukur atas setiap pertolongan Tuhan dalam perjalanan hidup saya.

2️⃣ Saya mau bersukacita atas berkat dan keberhasilan yang Tuhan berikan kepada orang lain.

3️⃣ Saya mau menjadikan setiap keberhasilan sebagai kesempatan untuk memuliakan Tuhan, bukan meninggikan diri sendiri.


📌 Kutipan Hari Ini:

"Jangan terlalu sibuk mengejar apa yang belum Tuhan berikan sampai lupa bersyukur atas apa yang sudah Dia kerjakan."


🗓️ Kamis, 6 Agustus 2026

✍️ Rialdi Pasaribu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMELIHARAAN TUHAN TIDAK PERNAH GAGAL 👣🍞✨

MENANG BERSAMA TUHAN ⚔️🌿

Mengalahkan Pencobaan