BERIBADAH DENGAN SUKACITA πŸŽ‰πŸ™

πŸ“– Mazmur 100:2 (TB) — “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!”


Shalom, Saudara terkasih 🌀️ Kiranya firman Tuhan hari ini memenuhi hati kita dengan sukacita yang sejati.


Saudaraku, ayat ini mengingatkan kita bahwa ibadah bukan beban, melainkan kehormatan. Tuhan mengundang kita datang kepada-Nya dengan hati yang bersukacita, bukan dengan wajah murung dan hati terpaksa. Sukacita dalam ibadah lahir dari kesadaran bahwa kita datang kepada Allah yang hidup, yang mengasihi, menerima, dan memelihara kita. Budaya zaman dulu, khususnya di Perjanjian Lama, ketika rakyat mau menghadap raja, dia mesti sukacita dan bahagia, bukan sedih dan murung. Kalau dia pasang wajah murung di depan raja, wah bisa-bisa kena hukuman berat. Nah, kita bisa masuk dalam hadirat Raja di atas segala raja. Apa sikap yang perlu kita lakukan? Bersukacita atau sedih? Tentu kita harus menyambut TUHAN dengan sukacita dan sorak-sorai, bukan dengan sedih atau terpaksa. Kita harus menyongsong Dia dengan ucapan syukur yang melimpah serta senyuman yang tulus di hadapan Sang Raja.


Saudaraku, sering kali kita datang beribadah karena rutinitas atau kewajiban. Namun firman ini menegur kita untuk mengubah sikap hati. Ibadah seharusnya menjadi momen perjumpaan yang menyenangkan dengan Tuhan. Sorak-sorai bukan sekadar suara keras, tetapi ekspresi hati yang bersyukur atas kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Jangan sampai kita punya kemunafikan. Di bibir mulut menyembah tetapi di hati kosong. Jangan begitu. Orang yang begitu hanya beribadah karena ritual dan kewajiban semata. Orang yang menyembah TUHAN dengan benar dan tulus ialah mereka yang bersukacita, bersyukur dan bersorak-sorai. Mereka senang karena manusia yang hina, rendah dan bodoh seperti saya bisa masuk ke hadirat-Nya yang kudus dan mulia. Saya bisa menikmati keagungan-Nya. Sungguh, ini adalah alasan yang sangat cukup untuk membuat kita bersukacita.


Saudaraku, sukacita dalam ibadah akan memengaruhi cara kita menjalani hidup. Orang yang datang kepada Tuhan dengan hati yang bersukacita akan membawa terang dan pengharapan bagi sekitarnya. Mari kita belajar menikmati hadirat Tuhan, baik di gereja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan layak disembah dengan penuh sukacita. Mari sadari bahwa TUHAN berdiam di dalam diri kita sebab kita dijadikan bait Allah oleh-Nya dan Roh Allah sungguh-sungguh berdiam di dalam diri kita. Ini adalah persekutuan yang indah. Kita bisa mengikatkan diri kita dengan TUHAN. Ini adalah kesempatan yang sungguh dahsyat. Ketika kita beribadah bersama jemaat TUHAN lainnya pun, kita perlu alami sukacita yag besar. Kita bisa bersekutu, berkumpul dengan saudara seiman untuk menyembah TUHAN. Ini adalah gambaran suasana sorga. Kita tidak akan menyembah sendirian. Kita akan menyembah dengan seluruh umat Allah di sorga. Waw, sungguh indah…! Haleluya…!


✝️ Tiga Komitmen Hari Ini:

1⃣ Saya mau beribadah kepada Tuhan dengan hati yang bersukacita.

2⃣ Saya mau datang kepada Tuhan bukan karena kewajiban, tetapi karena kasih.

3⃣ Saya mau mensyukuri setiap kesempatan untuk berjumpa dengan Tuhan.


πŸ“Œ Kutipan Hari Ini:

“Ibadah yang sejati lahir dari hati yang bersukacita di dalam Tuhan.”


πŸ—“️ 26-01-2026

✍️ Rialdi Pasaribu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN SUKA NIMBRUNG URUSAN ORANG LAIN

KEPEMIMPINAN YANG MEMBAWA BERKAT

Ga Gampang