MEMBERIKAN YANG PERTAMA BAGI TUHAN πΎππ₯
π Nehemia 10:37 (TB) — “Dan tepung jelai kami yang mula-mula, dan persembahan-persembahan khusus kami, dan buah segala pohon, dan anggur dan minyak akan kami bawa kepada para imam, ke bilik-bilik rumah Allah kami...”
Shalom, Saudara terkasih πΏ Firman hari ini mengajarkan tentang prinsip menghormati Tuhan dengan yang pertama dan yang terbaik dari apa yang kita miliki.
Saudaraku, bangsa Israel berkomitmen untuk membawa hasil pertama dari panen mereka ke rumah Allah. Mereka tidak memberikan sisa setelah kebutuhan mereka terpenuhi, tetapi mempersembahkan yang pertama kepada Tuhan. Tindakan ini merupakan pengakuan bahwa segala sesuatu yang mereka miliki berasal dari Tuhan dan sesungguhnya adalah milik Tuhan. Kita harus sadar bahwa kita hanyalah pengelola dari segala berkat yg sudah Tuhan berikan. Kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa berkat yg kita terima ialah kasih karunia Tuhan dalam hidup kita, bukan karena hasil kerja keras atau kehebatan kita. Sudah sepatutnya kita memberi persembahan dengan sukacita dan tulus hati kepada Tuhan, bahkan memberi yg terbaik, yakni hasil keuntungan kita di awal tahun bagi Tuhan. Secara teori, kita bisa mengucapkannya, namun Tuhan ingin kita benar-benar memberikan dengan tulus dalam praktik persembahan.
Saudaraku, dalam terang rohani yang lebih dalam, buah sulung bukan sekadar persoalan persembahan materi, tetapi persoalan prioritas hati. Apa yang kita tempatkan sebagai yang pertama dalam hidup kita menunjukkan siapa yang menjadi pusat kehidupan kita. Tuhan tidak terutama mencari hasil panen mereka, tetapi hati yang menghormati dan mengutamakan-Nya. Tuhan tidak cari hadiah atau uang atau materi tetapi Ia ingin melihat kesungguhan hati kita. Kualitas hati yg mengasihi Tuhan bisa dilihat dari seberapa besar yg Ia berikan bagi Tuhan, seberapa tulus ia memberikannya bagi Tuhan. Sebagian orang punya banyak harta tetapi memberi sedikit maka gimana dengan kualitas hatinya? Saat beli rumah ke-5, ia berani keluarkan uang banyak tetapi ketika beri persembahan, ia hanya memberi sedikit. Sungguh, di area ini saya pun diuji, apakah hati saya sungguh-sungguh mengasihi Tuhan? Kalau kita berani memberi besar dengan tulus, itu namanya korban syukur. Tuhan senang pada korban syukur karena hal itu merupakan wujud hati yg mengasihi Tuhan.
Saudaraku, persembahan itu juga dibawa ke rumah Allah untuk menopang pelayanan para imam dan orang Lewi. Ini menunjukkan bahwa kehidupan umat Tuhan tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling menopang dalam satu tujuan ilahi. Apa yang diberikan oleh satu orang menjadi berkat bagi seluruh pekerjaan Tuhan di tengah umat-Nya. Hari ini mungkin kita tidak membawa tepung, anggur, atau minyak ke bait Allah. Namun prinsipnya tetap sama. Apakah Tuhan mendapatkan bagian pertama dari waktu kita, perhatian kita, tenaga kita, kemampuan kita, dan sumber daya yang kita miliki? Sering kali kita memberikan sisa waktu kepada Tuhan setelah semua urusan selesai, padahal Tuhan layak menerima yang pertama dan yang terbaik. Dalam pandangan rohani yang lebih dalam, Kristus adalah Buah Sulung yang dipersembahkan kepada Allah, dan ketika kita hidup di dalam Kristus, seluruh hidup kita juga dapat menjadi persembahan yang berkenan kepada Tuhan. Tuhan rindu agar hati kita terlebih dahulu menjadi milik-Nya sebelum apa pun yang kita miliki diberikan kepada-Nya. Hari ini, mari kita belajar menempatkan Tuhan sebagai yang terutama. Ketika Tuhan berada di tempat pertama, segala sesuatu yang lain akan menemukan tempat yang benar dalam hidup kita.
✝️ Tiga Komitmen Hari Ini:
1️⃣ Saya mau menempatkan Tuhan sebagai prioritas utama dalam hidup saya.
2️⃣ Saya mau memberikan yang terbaik, bukan hanya sisa, kepada Tuhan.
3️⃣ Saya mau mendukung pekerjaan Tuhan dengan sukacita dan kerelaan hati.
π Kutipan Hari Ini:
“Apa yang menjadi yang pertama dalam hidup kita menunjukkan siapa yang sesungguhnya kita hormati.”
π️ 04-06-2026
✍️ Rialdi Pasaribu
Komentar
Posting Komentar