JANGAN MENGABAIKAN PERINGATAN TUHAN ππ₯
π Ezra 9:11 (TB) — “yang Kauperintahkan dengan perantaraan hamba-hamba-Mu, para nabi itu, dengan berfirman: Negeri yang kamu masuki untuk diduduki adalah negeri yang cemar oleh karena kecemaran penduduk negeri, yakni oleh karena kekejian yang mereka lakukan dengan segala kenajisan mereka di segenap negeri itu dari ujung ke ujung.”
Shalom, Saudara terkasih πΏ Dalam ayat ini, Ezra mengingat kembali perintah Tuhan yang sudah diberikan sejak dahulu melalui para nabi.
Saudaraku, Tuhan sudah memperingatkan Israel tentang keadaan negeri yang mereka masuki dan tentang kecemaran penduduknya. Jadi, persoalan yang sedang terjadi pada zaman Ezra bukanlah sesuatu yang belum pernah Tuhan jelaskan. Mereka sebenarnya sudah mengetahui kehendak Tuhan. Ezra mengingat bahwa Tuhan telah berbicara melalui “hamba-hamba-Mu, para nabi itu.” Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak membiarkan umat-Nya berjalan tanpa peringatan. Sebelum manusia jatuh terlalu jauh, Tuhan sering kali sudah memberikan firman, teguran, nasihat, dan batasan. Secara rohani, masalah kita terkadang bukan karena Tuhan tidak berbicara, tetapi karena kita tidak sungguh-sungguh mendengarkan apa yang sudah Ia katakan. Setiap peringatan harus kita perhatikan dan kita indahkan. Jangan abaikan. Mengabaikan peringatan akan menuntun pada kecelakaan dan bahaya besar. Saya pun kerja di perawatan pesawat harus memperhatikan Warning and Caution, yaitu peringatan yang tercantum dalam petunjuk kerja. Kalau saya abaikan, bahaya akan segera menimpa.
Saudaraku, Tuhan menyebut negeri itu “cemar” karena penduduknya melakukan berbagai kekejian dan kenajisan. Ini menunjukkan bahwa Tuhan memandang dosa dengan serius. Dunia dapat menganggap sesuatu sebagai hal biasa, tetapi standar kekudusan Tuhan tidak berubah mengikuti budaya atau kebiasaan manusia. Karena itu, umat Tuhan perlu memiliki kepekaan rohani: tidak semua yang dianggap normal oleh lingkungan kita harus kita ikuti. Kita dipanggil untuk tetap menjaga kekudusan sekalipun berada di tengah lingkungan yang berbeda. Orang bijak mengatakan biasakan yang benar, bukan benarkan yang biasa. Kalau kawin campur sudah biasa, maka jangan dibenarkan. Jangan bawa budaya masuk dalam kekristenan, tetapi bawa kekristenan ke dalam budaya sehingga yang gelap jadi terang, yang cemar jadi kudus.
Saudaraku, yang menyedihkan adalah Israel akhirnya melakukan hal yang justru sudah diperingatkan Tuhan agar mereka hindari. Ini menjadi peringatan bagi kita: mendengar firman Tuhan saja belum cukup. Kita perlu menyimpannya dalam hati dan melakukannya. Jangan sampai kita begitu sering mendengar khotbah, membaca Alkitab, mengikuti renungan, bahkan mampu menjelaskan firman dengan baik, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita justru mengabaikan apa yang Tuhan sudah perintahkan. Kekudusan tidak dibangun hanya dari banyaknya pengetahuan tentang firman, tetapi dari ketaatan terhadap firman yang sudah kita ketahui. Kita harus belajar memberi hidup dikuasai oleh TUHAN. Kita harus belajar untuk mempersilakan TUHAN berdaulat atas hidup kita. Kita harus belajar untuk menyenangkan hati TUHAN senantiasa lewat hidup kita, dengan taat, patuh dan tunduk pada firman-Nya yang baik dan benar.
✝️ Tiga Komitmen Hari Ini:
1. Saya mau sungguh-sungguh memperhatikan setiap peringatan Tuhan melalui firman-Nya.
2. Saya mau memiliki kepekaan untuk membedakan mana yang sesuai dengan kekudusan Tuhan dan mana yang hanya dianggap normal oleh lingkungan.
3. Saya mau mengubah firman yang saya dengar menjadi ketaatan dalam kehidupan sehari-hari.
π Kutipan Hari Ini:
“Tuhan tidak hanya memberikan firman untuk kita dengarkan, tetapi untuk kita hidupi sebelum peringatan-Nya berubah menjadi penyesalan.”
Senin, 21 September 2026
✍️ Rialdi Pasaribu
Komentar
Posting Komentar