JANGAN MENGULANG KESALAHAN YANG SAMA ππ₯
π Ezra 9:14 (TB) — “masakan kami kembali melanggar perintah-Mu dan kawin-mengawin dengan bangsa-bangsa yang keji ini? Tidakkah Engkau akan murka kepada kami sampai kami habis binasa, sehingga tidak ada yang tinggal hidup atau terluput?”
Shalom, Saudara terkasih πΏ Ayat ini merupakan kelanjutan dari pengakuan Ezra setelah ia menyadari bahwa Tuhan sudah begitu banyak memberikan kasih karunia kepada Israel.
Saudaraku, bangsa Israel sudah mengalami akibat dari dosa nenek moyang mereka, tetapi Tuhan tidak menghukum mereka setimpal dengan kesalahan mereka. Namun sekarang, mereka kembali melakukan hal yang sebelumnya sudah Tuhan larang. Karena itu Ezra bertanya dengan hati yang gentar, “Masakan kami kembali melanggar perintah-Mu?” Kata “kembali” menjadi sangat penting. Ezra menyadari bahwa dosa yang sedang terjadi bukan sekadar kesalahan baru, tetapi pengulangan dari pola ketidaktaatan yang pernah membawa bangsa itu kepada kehancuran. Secara rohani, ini mengingatkan kita bahwa salah satu tanda pertobatan yang sungguh-sungguh adalah adanya keinginan untuk tidak terus kembali kepada dosa yang sama. Kita memang bisa jatuh, tetapi jangan menjadikan jatuh sebagai alasan untuk terus tinggal di tempat yang sama. Tuhan ingin membentuk kita menjadi pribadi yang semakin peka, semakin berjaga-jaga, dan semakin taat.
Saudaraku, pertanyaan Ezra tentang murka Tuhan menunjukkan bahwa ia tidak menganggap enteng kekudusan Allah. Ada kasih karunia, tetapi ada juga kekudusan dan penghakiman Tuhan terhadap dosa. Kita tidak boleh menggunakan kasih karunia sebagai alasan untuk berkata, “Tidak apa-apa, Tuhan pasti mengampuni.” Pengampunan bukan izin untuk mengulangi dosa. Justru karena kita telah menerima belas kasihan Tuhan, seharusnya kita semakin takut untuk menyakiti hati-Nya dan semakin serius menjaga kehidupan kita. Saya juga seringkali melakukan kesalahan yang sama, yaitu menaruh handuk di sofa setelah mandi. Beberapa kali saya lupa dan diingatkan oleh istri, kemudian saya meminta maaf. Istri memaafkan tetapi saya tidak boleh merasa berhak menaruh handuk di sofa lagi setelah dimaafkan. Saya justru harus lebih mengingat bahwa handuk harus disimpan di gantungan jemuran. Kita juga seringkali berbuat dosa di hadapan TUHAN. Ya, TUHAN ampuni kita, tetapi apakah kita mau mengulang dosa yang sama? Tentu jangan! Kita harus waspada, ingat kasih karunia TUHAN dan mari lakukan yang benar.
Saudaraku, ayat ini juga mengajarkan pentingnya belajar dari sejarah. Israel sudah mengetahui bagaimana dosa dan ketidaktaatan membawa mereka kepada kehancuran, tetapi mereka hampir mengulangi jalan yang sama. Dalam kehidupan kita, jangan menunggu sampai mengalami kehancuran terlebih dahulu untuk belajar. Dengarkan firman Tuhan, perhatikan pengalaman masa lalu, kenali pola kelemahan kita, dan ambil langkah nyata untuk menjauhinya. Pertobatan bukan hanya berkata “Tuhan, ampunilah saya,” tetapi juga berkata, “Tuhan, ubahlah saya supaya saya tidak terus kembali kepada jalan yang sama.” Mari kita hidup dalam komitmen untuk taat kepada TUHAN. Sungguh, komitmen untuk hidup taat menjadi titik penting bagi kita untuk setia mengasihi TUHAN. Kita juga akan dituntun untuk menjauhi dosa dan membenci dosa. Kita menjadi orang yang selalu ingin menyenangkan hati TUHAN dengan hidup baik, benar, kudus dan rendah hati.
✝️ Tiga Komitmen Hari Ini:
1. Saya mau mengenali pola dosa yang berulang dalam hidup saya dan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.
2. Saya mau menghargai kasih karunia Tuhan dengan hidup dalam ketaatan, bukan memanfaatkannya sebagai alasan untuk berbuat dosa.
3. Saya mau belajar dari kegagalan masa lalu dan mengambil langkah nyata untuk tidak mengulanginya.
π Kutipan Hari Ini:
“Pertobatan bukan hanya menangisi dosa yang sudah dilakukan, tetapi mengambil keputusan untuk tidak terus berjalan di jalan yang sama.”
Kamis, 25 September 2026
✍️ Rialdi Pasaribu
Komentar
Posting Komentar