TUHAN TIDAK MENINGGALKAN KITA DI TENGAH PERBUDAKAN ππ₯
π Ezra 9:9 (TB) — “Karena sungguhpun kami menjadi budak, tetapi di dalam perbudakan itu kami tidak ditinggalkan Allah kami. Ia membuat kami disayangi oleh raja-raja negeri Persia, sehingga kami mendapat kelegaan untuk membangun rumah Allah kami dan menegakkan kembali reruntuhannya, dan diberi tembok pelindung di Yehuda dan di Yerusalem.”
Shalom, Saudara terkasih πΏ Ayat ini memperlihatkan bagaimana Ezra melihat keadaan Israel setelah pembuangan.
Saudaraku, bangsa Israel memang masih berada dalam posisi sebagai budak dan belum sepenuhnya bebas, tetapi Ezra menyadari satu hal yang jauh lebih penting: Allah tidak meninggalkan mereka. Bahkan di dalam keadaan yang terbatas itu, Tuhan membuka jalan melalui raja-raja Persia sehingga mereka mendapatkan kesempatan untuk membangun kembali rumah Allah dan memulihkan kehidupan mereka. Kalimat “di dalam perbudakan itu kami tidak ditinggalkan Allah kami” menunjukkan bahwa kehadiran Tuhan tidak selalu berarti kita bebas dari masalah. Israel masih berada dalam keadaan sulit, tetapi Tuhan tetap menyertai mereka. Secara rohani, kita perlu memahami bahwa masa sulit bukan berarti Tuhan sedang meninggalkan kita. Ada kalanya Tuhan tidak langsung mengeluarkan kita dari keadaan yang berat, tetapi Ia hadir, memberikan kekuatan, pertolongan, dan jalan untuk tetap berjalan di tengah keadaan tersebut. Sungguh, lebih indah bersama Tuhan meski dalam perbudakan dari pada hidup merdeka namun jauh dari Tuhan.
Saudaraku, Tuhan bahkan memakai raja-raja Persia untuk memberikan kelegaan kepada umat-Nya. Artinya, Tuhan dapat bekerja melalui orang-orang, keadaan, bahkan pihak yang mungkin tidak pernah kita bayangkan. Apa yang terlihat seperti pintu yang tertutup bagi manusia, dapat Tuhan buka pada waktu-Nya. Karena itu, jangan hanya melihat siapa yang sedang memegang kekuasaan atau bagaimana keadaan di sekitar kita. Belajarlah melihat tangan Tuhan yang dapat bekerja melalui berbagai cara untuk menggenapi kehendak-Nya. Saya juga punya rekan kerja di kantor yg berbeda keyakinan. Ia sangat rajin di dalam kegiatan agamanya. Namun, ia punya kasih yg besar bagi kami sebagai orang Kristen. Ia menyediakan tempat bagi kami untuk bersekutu, untuk beribadah dan memuji Tuhan. Ia juga memberikan aksesoris rohani kepada kami. Luar biasa banget. Kami yakin bahwa ini merupakan kasih dan kepedulian dari Tuhan melalui orang yg tidak seiman dengan kami.
Saudaraku, tujuan kelegaan yang Tuhan berikan kepada Israel bukan sekadar supaya mereka hidup nyaman, tetapi supaya mereka dapat “membangun rumah Allah kami dan menegakkan kembali reruntuhannya.” Kelegaan dari Tuhan memiliki tujuan. Ketika Tuhan memberikan kesempatan, pemulihan, kesehatan, waktu, kemampuan, pekerjaan, keluarga, atau sumber daya, semuanya dapat menjadi kesempatan untuk kembali membangun sesuatu yang memuliakan Tuhan. Jangan sampai kita hanya meminta Tuhan mengeluarkan kita dari kesulitan, tetapi setelah keluar dari kesulitan kita melupakan tujuan Tuhan bagi hidup kita. Mari kita setia untuk melakukan kehendak Allah. Ia mau melibatkan kita dalam upaya yang baik dan benar. Jadilah orang yg berada di pihaknya Allah, menjadi umat yg lebih dari pemenang. Mari kita senantiasa mengerjakan misi-Nya dan berbagian dalam pekerjaan-Nya.
✝️ Tiga Komitmen Hari Ini:
1. Saya mau percaya bahwa Tuhan tetap menyertai saya sekalipun sedang berada dalam keadaan yang sulit.
2. Saya mau peka melihat pertolongan Tuhan, termasuk ketika Ia bekerja melalui orang dan keadaan yang tidak saya duga.
3. Saya mau menggunakan setiap kelegaan dan kesempatan yang Tuhan berikan untuk membangun sesuatu yang memuliakan-Nya.
π Kutipan Hari Ini:
“Kelegaan dari Tuhan bukan hanya untuk membuat kita nyaman, tetapi untuk memberi kita kekuatan membangun kembali apa yang pernah runtuh.”
Sabtu, 19 September 2026
✍️ Rialdi Pasaribu
Komentar
Posting Komentar