MENGAKU, TAAT, DAN BERANI MEMISAHKAN DIRI DARI DOSA ππ₯
π Ezra 10:11 (TB) — “Tetapi sekarang mengakulah di hadapan TUHAN, Allah nenek moyangmu, dan lakukanlah apa yang berkenan kepada-Nya dan pisahkanlah dirimu dari penduduk negeri dan perempuan-perempuan asing itu!”
Shalom, Saudara terkasih πΏ Ayat ini membawa kita kepada inti pertobatan yang sejati.
Saudaraku, Ezra tidak berhenti pada pengakuan dosa. Ia memanggil umat Tuhan untuk mengakui dosa di hadapan Tuhan, melakukan apa yang berkenan kepada-Nya, lalu mengambil tindakan nyata dengan memisahkan diri dari sumber kompromi mereka. Pertobatan bukan hanya merasa bersalah, tetapi berbalik kepada Tuhan dengan ketaatan. Perhatikan urutannya: “mengakulah... lakukanlah... dan pisahkanlah.” Ada gerakan dari hati menuju tindakan. Mengaku berarti berhenti bersembunyi dan menyebut dosa sebagaimana adanya di hadapan Tuhan. Tetapi pengakuan tanpa perubahan hanya menjadi kata-kata. Tuhan bukan sekadar mencari mulut yang berkata “saya salah”, tetapi hati yang berkata, “Tuhan, saya mau kembali kepada jalan-Mu.” Pertobatan sejati selalu memiliki arah: meninggalkan dosa dan kembali kepada kehendak Allah.
Saudaraku, saya dulu bergaul dengan anak punk, sudah merokok sejak SD dan kecanduan main ke warnet (warung internet). Saya anak bandel. Puji Tuhan, hati saya disentuh oleh Tuhan sehingga saya mengaku dosa, bertobat dan meninggalkan pergaulan yg buruk. Tidak mudah, tidak nyaman, tapi harus saya lakukan demi kasih saya kepada Tuhan. Kalimat “lakukanlah apa yang berkenan kepada-Nya” juga sangat dalam. Standar pertobatan bukan lagi “apa yang menurut saya baik”, “apa kata orang”, atau “seberapa jauh saya masih bisa bermain-main dengan dosa”, tetapi “apa yang berkenan kepada Tuhan?” Inilah perubahan pusat kehidupan. Dulu kehendak diri menjadi ukuran; sekarang kehendak Tuhan menjadi ukuran. Kekristenan bukan hanya mengetahui apa yang Tuhan katakan, tetapi memiliki keberanian untuk melakukannya meskipun ketaatan itu menyakitkan, mahal, dan menuntut kita melepaskan sesuatu yang kita sukai.
Saudaraku, “pisahkanlah dirimu” menunjukkan bahwa ada dosa yang tidak cukup hanya dilawan dari dalam hati; kita juga harus mengubah lingkungan, kebiasaan, relasi, atau pintu-pintu yang terus membawa kita kembali kepada dosa. Kalau saya masih bergaul di tempat yg salah, bisa jadi saya sudah terlibat narkoba dan kriminal karena teman saya itu pun sudah pernah masuk penjara. Kita harus berani keluar dari pergaulan yg buruk, harus siap memisahkan diri. Dalam konteks Ezra, ini berkaitan dengan pernikahan dengan perempuan asing yang membawa Israel kepada kompromi terhadap iman dan identitas perjanjian mereka. Prinsip rohaninya bagi kita hari ini bukanlah memusuhi orang yang berbeda, melainkan memutus keterikatan yang menyeret kita menjauh dari Tuhan. Kadang-kadang kita berdoa, “Tuhan, jauhkan aku dari pencobaan,” tetapi Tuhan justru berkata, “Beranilah menutup pintunya.” Anugerah Tuhan mengampuni kita, tetapi anugerah yang sama juga mengajar kita untuk meninggalkan kehidupan lama. Mari kita jadi manusia baru yg berada dalam pergaulan benar dan menjadi terang bagi kegelapan dunia.
✝️ Tiga Komitmen Hari Ini:
1. Saya akan berani mengakui dosa kepada Tuhan tanpa membela diri atau mencari alasan.
2. Saya akan menjadikan kehendak Tuhan sebagai ukuran hidup saya, bukan sekadar keinginan pribadi.
3. Saya akan berani memutus kebiasaan, lingkungan, atau keterikatan yang terus menarik saya kembali kepada dosa.
π Kutipan Hari Ini:
“Pertobatan bukan hanya berkata, ‘Tuhan, aku salah.’ Pertobatan berkata, ‘Tuhan, aku mau berubah, sekalipun perubahan itu menuntutku melepaskan sesuatu yang kusayangi.’”
Selasa, 6 Oktober 2026
✍️ Rialdi Pasaribu
Komentar
Posting Komentar