MENJADI PEMBAWA DAMAI, BUKAN PEMICU PERTENGKARAN ❤️
Matius 5:9 (TB) “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”
Shalom, Saudaraku! π Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah menghadapi pertengkaran, kesalahpahaman, atau perbedaan pendapat. Terkadang, kita merasa harus membela diri, membuktikan bahwa kita benar, atau membalas perkataan yang menyakitkan. Namun, Tuhan Yesus mengajarkan sesuatu yang berbeda: orang yang membawa damai adalah orang yang berbahagia.
Saudaraku, membawa damai bukan berarti kita harus selalu mengalah, diam ketika melihat kesalahan, atau membiarkan orang lain melakukan sesuatu yang tidak benar. Membawa damai berarti kita tidak menambah masalah dengan kemarahan, kebencian, dan perkataan yang menyakitkan. ❤️ Kita bisa menyampaikan kebenaran dengan kasih, menegur dengan bijaksana, dan tetap menghormati orang lain meskipun memiliki perbedaan pendapat. Terkadang, satu perkataan yang lembut mampu menghentikan pertengkaran yang semakin besar. Kita harus berhikmat dalam menyatakan kebenaran. Harus dengan kasih sehingga ada kedamaian. Beberapa waktu lalu saya lihat konten di mana seseorang ingin menegur pengendara yang merokok di jalan. Namun teguran ini berujung pada kekesalan dan kemarahan terhadap pengendara. Akhirnya apa? Bukan damai, malah ribut. Menyatakan kebenaran itu penting, tetapi cara menyampaikannya pun penting. Maka kita harus berhikmat supaya kebenaran yang kita sampaikan bisa membawa kedamaian.
Saudaraku, mari kita mulai dari keluarga kita sendiri. Ketika pasangan sedang lelah, anak melakukan kesalahan, atau suasana rumah mulai memanas, apakah kita menjadi orang yang menenangkan atau justru memperkeruh keadaan? Begitu juga di tempat kerja, ketika terjadi konflik dengan rekan, apakah kita ikut menyebarkan cerita yang memperburuk hubungan atau berusaha memahami kedua pihak? π Membawa damai dimulai dari kesediaan kita mengendalikan diri, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, dan tidak selalu merasa harus menjadi orang yang menang. Kalau hati kita kotor dan busuk, maka kita akan senang memanas-manasi keadaan. Makin digosok makin sip. Nah, ini sangat bahaya dan beracun banget. Kehadiran kita sebagai orang Kristen harus membawa damai, ketenangan, keademan dan ketenteraman. Jangan malah kita bawa perseteruan semakin panas, makin seru dan makin tegang. Wah, jangan dah..! Orang Kristen tidak layak untuk membawa pertengkaran dan membuat keadaan makin panas.
Saudaraku, Yesus berkata bahwa orang yang membawa damai akan disebut anak-anak Allah. Ini mengingatkan kita bahwa sebagai anak-anak Allah, kita dipanggil untuk mencerminkan karakter Bapa kita. Tuhan telah menunjukkan kasih dan pendamaian kepada kita, bahkan ketika kita masih berdosa. Karena itu, kita juga dipanggil untuk menjadi saluran damai bagi orang lain. π± Kita mungkin tidak bisa menyelesaikan semua konflik, tetapi kita bisa memilih untuk tidak menjadi sumber pertengkaran. Kita bisa memulai dengan satu tindakan sederhana: meminta maaf, mengampuni, mendengarkan, atau mengucapkan perkataan yang membangun. Lihat Tuhan Yesus, Ia membawa damai antara Allah dan umat manusia yang berdosa. Ia menjadi Perantara yang menghubungkan manusia kembali kepada Allah. Ada rekonsiliasi, ada pemulihan hubungan. Maka kita memanggil Tuhan Yesus sebagai Anak Allah. Kita pun disebut sebagai anak-anak Allah ketika kita mau membawa damai, ketenteraman dan keademan. Kiranya damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal dan pikiran menyertai hidup kita senantiasa.
Puji Tuhan, hari ini kita sudah belajar:
1. ❤️ Membawa damai bukan berarti selalu mengalah, tetapi memilih kasih dan kebenaran tanpa memperkeruh keadaan.
2. π Mulailah menjadi pembawa damai dari keluarga dan lingkungan terdekat kita.
3. π± Sebagai anak-anak Allah, marilah kita mencerminkan kasih dan pendamaian Tuhan melalui perkataan dan tindakan kita.
Doa:
Tuhan Yesus, ajarlah kami menjadi pembawa damai di mana pun kami berada. Tolong kami untuk mengendalikan amarah, menjaga perkataan, dan tidak memperbesar konflik. Berikanlah kami hati yang penuh kasih agar melalui kehidupan kami, orang lain dapat merasakan damai dan kasih-Mu. Amin ❤️π₯°π
Kutipan:
“Jangan menjadi orang yang selalu ingin memenangkan pertengkaran; jadilah orang yang membawa hati kembali kepada damai.”
Jumat, 23 Oktober 2026
Rialdi Pasaribu
Komentar
Posting Komentar