BOLEHKAH BALAS DENDAM?
(Amz 20:22) Janganlah engkau berkata: "Aku akan membalas kejahatan," nantikanlah TUHAN, Ia akan menyelamatkan engkau.
Shalom, Saudaraku,,, Tuhan Yesus suka mengampuni dan Ia penuh dengan kasih sayang.
Saudaraku, hati manusia itu penuh dengan kecenderungan dosa. Saat kita diperlakukan dengan jahat oleh orang lain, kita punya niat untuk balas dendam. Kita kesal, kita kecewa, kita marah dan kita pahit dengan apa yang orang jahat lakukan kepada kita. Namun kita harus belajar sabar. Kenapa? Karena ada perintah, “nantikanlah TUHAN.” Ya, kita harus menanti TUHAN, harus menunggu, harus sabar. Pembalasan itu bukan hak kita, bukan bagian kita, bukan tugas kita. Pembalasan adalah hak TUHAN dan bagian TUHAN. Kita tidak boleh mengambil bagiannya TUHAN. Itu ndak sopan namanya. TUHAN ingin kita ambil bagian kita sendiri, yaitu sabar. Kalau kita yang balas perbuatan jahat itu, maka kita yang cape, kita yang makin jatuh dan kecewa. Kita akan semakin alami rumitnya hidup dan rusaknya relasi. Tapi kalau TUHAN yang balas, maka kita akan aman dan tenang. Belajarlah untuk menunggu, menanti dan jangan tergesa-gesa. Orang yang ga sabaran akan segera membalas dendam tetapi mereka yang sabar akan ditolong TUHAN.
Saudaraku, sikap menanti TUHAN pun adalah wujud dari penguasaan diri. Banyak orang lepas kendali saat disulut emosinya. Kita mungkin pernah lihat di jalanan ada orang berkelahi. Kenapa? Karena kendaraan lain menyerempet kendaraannya atau ada makian yang keluar saat di jalan. Hal itu membuat panas hati orang tersebut dan timbul keributan di sana. Perhatikan, di situ nda ada penguasaan diri, nda ada pengendalian diri, adanya adalah panas hati, kesal dan diluapkan dengan kekerasan. Hal ini justru membuat malu diri sendiri. Kita akan dicap dan dikenal sebagai orang yang liar, ganas dan mengerikan. Emang enak dicap begitu? Tentu tidak..! Makanya orang yang ga sabaran akan mudah lepas kendali dan akibatnya jelek banget, dia akan alami masalah yang makin rumit juga akan dicap sebagai orang yang buruk. Dalam masalah keluarga pun, kita harus bisa selesaikan persoalan dengan sabar. Jangan jadi golongan sumbu pendek yang dikit-dikit marah, meledak dan merusak.
Saudaraku, menanti TUHAN untuk melakukan pembalasan adalah wujud bahwa kita mau menjadikan TUHAN sebagai penolong. Jangan jadi juruselamat bagi dirimu sendiri. Jangan…! Sebab ujungnya pasti berantakan. Kita harus belajar menyerahkan segala persoalan kita kepada TUHAN dan mempercayakan TUHAN untuk selesaikan masalahnya. Kalau marah, ya sabar. Minta hikmat TUHAN, minta bimbingan TUHAN. Saya yakin Roh Kudus akan arahkan kita sesuai firman. Ketika kita menanti pembalasan dari TUHAN, kita justru akan diarahkan untuk membalas kejahatan dengan kebaikan dan mengalahkan yang buruk dengan yang baik. Ya, pembalasan terbaik adalah dengan mengampuni. Inilah cara TUHAN, inilah strategi yang luar biasa untuk menangani konflik. Kalau kita mau diampuni, maka kita harus mengampuni. Orang yang tidak mengampuni adalah orang yang pahit hatinya dan ia harus segera dipulihkan. Pahit itu sifat yang buruk. Buat apa disimpan dan dipelihara? Adakah di antara kita menyimpan sampah di kamarnya lalu membiarkan bau busuknya memenuhi kamar kita? Tidak kan? Nah, kepahitan itu ibarat sampah busuk. Kita harus buang supaya tidak bertambah bau busuknya. Kita harus selesaikan dengan pengampunan agar ruangan hati kita kembali wangi karena dipenuhi oleh kasih Kristus.
Puji TUHAN, hari ini kita sudah belajar dan mau menerapkan 3 hal, yaitu
1. Saya mau menanti pembalasan TUHAN dan tidak mau mengambil bagian itu.
2. Saya tidak mau jadi golongan sumbu pendek yang mudah marah, meledak dan merusak.
3. Saya mau menjadikan TUHAN sebagai penolong yang mengarahkan saya untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, mengalahkan kepahitan dengan pengampunan.
Tuhan Yesus menjamah hati kita. Amin.. 😃😇😊
Kutipan
Saat engkau sakit hati, jangan membalas tetapi nantikanlah TUHAN untuk melakukan pembalasan.
28-08-2024
Rialdi Pasaribu
Komentar
Posting Komentar